Biografi

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

13 Maret

Hari ini, dua tahun yang lalu..
Dua tahun sudah kita di sini..
Dulu kalian orang asing, kini saudara bagiku...
Kita mampu bertahan dan berjuang dengan segala kekurangan.
Kita mampu ciptakan momen yang terhebat, dan karya terbaik.
Kita adalah keluarga..

Kita akan kenang masa ini.. 
Biar menjadi kisah untuk anak cucu kita.. 
Bahwa kita punya saudara, dari sabang hingga merauke..

Tetap lakukan yang terbaik, di sisa-sisa waktu kita di sini.. 
Mari kita tinggalkan warisan yang berharga ketika kita kembali ke jatinangor..
Relakanlah sedikit keringatmu mengalir..
Demi kenangan baik yang kelak akan kau tinggalkan di sini..

Jatinangor, 13 Maret 2010
Makassar, 13 Maret 2012
Renungan dua tahun pas tinggal di kampus IPDN Makassar


Senin, 03 Januari 2011

Jalan

Seandainya ini bukan jalanku untuk dekat padamu,

Pasti jalan ini akan ku tinggalkan karena kita tidak punya waktu untuk bersama...


Tapi apa boleh buat,

Hanya jalan ini yang bisa ku tempuh untuk mempersiapkan masa depan yang akan ku berikan untukmu...


Apapun yang terjadi,

Aku hanyalah hidup dengan nafasmu...


Makassar, 03 Januari 2011
Maaf, karena hanya cinta ini yg bisa kuberikan untukmu.
Nothing more...

Kamis, 25 November 2010

Hujan

Aku suka hujan
Entah kenapa
Aku juga heran
Tapi aku memang sangat suka hujan
Ada rasa nyaman
Saat hujan mengguyur
Bersama kenangan indah
Yang nyaris terkubur

Makassar, 26 November 2010
Di sore yang amat tenang karena hujan

Sabtu, 20 November 2010

Anganku, bayangmu

Telah kulihat dan kudengar
Ingin hati memilikinya
Tapi tak kunjung jua tercapai
Angan pun tergadai oleh sang waktu
Ku ingin dirimu

Indah dipandang
Tapi tak jua tergapai
Dan kini matapun tak lagi dapat menjangkaunya
 
Kemana bayang dirimu yang selalu ku nanti??
Walaupun dirimu hanya sekedar bayang dan angan bagiku

Banda Atjeh, 23 Agustus 2010
Di bawah langit mendung, dicurahi hujan berjam-jam


Jumat, 19 November 2010

Lost My Mind

Dekapan malam yang semakin larut,
Tak mampu menahan amarah
Nafas yang memburu,
Jantung yang berdetak,
Berlomba seiring denyutan nadi yang terpacu

Ingin kuhamburkan semua
Agar semua luluh lantak
Agar semua melebur
Bersama hatiku yang tak lagi berbentuk

Ingin kuberteriak kencang
AKU KALAH!!!
AKU KALAH!!!
Tapi,
Perang belum usai

AKU AKAN KEMBALI!!!
AKU AKAN KEMBALI!!! 
Dan akan kuakhiri
Semua yang telah kumulai

Makassar, 20 November 00.57 WITA
Di bawah guyuran temaram'a sang rembulan...

Senin, 25 Oktober 2010

Kembali

Hatiku
Remuk
Hancur
Luluh
Hilang
Entah
Kemana

Hanya tertinggal
Harapan
Hampa
Kosong
Semu
Lemah
Tak berdaya

Akhirnya,
Pergi
Jauh
Dan mati

Aku,
Terpuruk
Aku,
Lelah
Aku,
Tak berdaya

Kuingin
Kembali
Padamu   

Makassar, 26 Oktober 2010
Dengan hati yang terluka...

Sabtu, 23 Oktober 2010

Antara Aku, Guntur, Hujan, dan Dia

Sepi, kurasa sendiri
Di tengah guntur yng menggelegar
Dan hujan yang menderu kencang
Aku kehilangan kata-kata
Pun tak tahu hendak berbuat apa

Semakin menggelegar
Semakin deras menghujam

Wahai guntur!
Jangan kau bentak aku
Aku tahu aku salah
Tapi haruskah kau caci aku?

Wahai hujan!
Dengarkanlah permintaanku yang semakin melemah ini
Sampaikan permintaan maafku untuknya
Aku tak pernah bermaksud menyakitinya
Semua terjadi karena segala keterbatasanku yamg memang tak pantas untuknya

Wahai alam!
Kau mengingatkanku akan saat itu di Nanggroe
Saat guntur berteriak iri karena aku menjaga dia dari gelegarnya
Saat tetesan hujan menari ria di atas bumi
Ketika aku memadu kasih hanya berdua dengannya

Namun kini,
Semua telah usai

Apakah kau puas guntur?
Apakah kau akan meratapi ini hujan?
Apakah ini yang memang ditasbihkan untukku wahai alam?

Semakin melemah
Dengan tenaga yang tersisa ingin ku katakan:

MAAFKANLAH AKU . . . . .

Bandung, 06 Januari 2010

Jumat, 22 Oktober 2010

Kau mengingatkanku akan Nanggroe, hujan!

Tetes demi tetes menitik
Pada ujung genting tempatku berteduh
Terdiam ku di sisi sang jendela
Menikmanti sang hujan
Dan dinginnya desiran angin

Seakan inilah jalan di depan rumah
Saat ku melongok keluar
Padahal ini bukan rumahku
Seakan inilah saat aku bersamanya
Di gubuk tua yang reot di pinggir pantai
Tapi ia tak jua kembali

Helaan panjang nafas menghembus
Menguap di hamparan kaca
Terjaga di antara mimpi dan realita
Hayalanku yang telah menembus batas ruang dan waktu yang ada

Aku tak pernah menyalahkanmu
Dan bukan pula ingin untuk itu, hujan
Tapi aku malah berterima kasih
Atas warna dari masalah yang kau hadirkan kembali di pelupuk mata

Dan aku tak kan bertanya kepadamu
Kenapa ia tak kembali padaku
Tapi aku tetap berharap
Bahwa, suatu saat nanti
Aku kan kembali menggemgam tangannya
Dan memberinya kehangatan
Seperti saat kau buat ia kedinginan
Hingga ia meringkuk dalam dekapku

Aku ingat jalanan di Kota Tua Para Raja
Saat kau guyur deras berjam-jam
Aku merindukan itu semua hujan
Dan kenangan itu kau hadirkan kembali

Sore ini,
Kau mengingatkanku akan Nanggroe, hujan

Bandung, 4 Januari 2010

Kamis, 21 Oktober 2010

Dan penderitaanpun dimulai....

Ku tatap langit yang mencurahkan hujan,
Mencoba menghapus bayang kau dan ragamu...
Tapi tak akan mampu..
Malah deras rintik air terasa bagaikan hujaman peluru yang menusuk sembilu...

Aq jengah dengan keadaan..
Jengah kepada ketololanku yang tak bisa melupakan bias artimu..
Jengah kepada jiwaku yang lemah tanpa bagiannya yang hilang tersapu angin..
Jengah kepada diriku yang kini setengah hidup tapi tak kunjung mati!

Disini...
Di tanah ini..
Di bumi Tuhan ini ku sampaikan pada kalian,
Agar kalian mengerti..

Dan penderitaan pun dimulai....

Bandung, 08 November 2009

Rabu, 20 Oktober 2010

Biarkan Aku Sendiri

Kupahami risaumu
Kurasakan rindumu
Kuratapi pedihmu
Kuyakinkan hatimu

Aku adalah kau
Kau adalah aku
Kita adalah serupa dua jiwa
Yang menyatu dalam sosok kau dan aku

Maaf jika kuabaikan
Maaf jika kuacuhkan
Maaf jika kulupa
Maaf, tetapi sesungguhnya aku tidak

Aku tak pernah abaikan
Tak pula pernah kuacuhkan
Apalagi sampai hati lupakan
Tak pernah terbersit di awangku

Hanya . . . . .

Untuk sementara
Untuk sesaat
Untuk beberapa waktu

Biarkan aku sendiri . . . . .

Bandung, 10 Desember 2009

Jumat, 15 Oktober 2010

Namamu : Rindu

Ku berlayar di lautan tak bertepian..
Sesekali disadarkan ombak yang mendatar..
Aku seperti hilang puncak harapan jua..

Aku puisikan namamu,
Bersama rindu di dalam sendu..

Banda Atjeh, 13 Oktober 2009

Kamis, 07 Oktober 2010

Tentang kisah aku

Sandarkan tubuhku di sebatang pinus tua...
Yang batangnya telah terkelupas kulitnya dimakan usia...
Helaan nafas terasa berat..
Mengingat bebanku yang makin bertambah...
Ini ceritaku kawan..
Walaupun aku harus bersandar, maafkan aku yang membiarkanmu berdiri tegak..
Aq tak sanggup lagi,.
Maka biarlah tegakmu jadi sandaranku..

Terdiam ku gamang dalam rangkaian kata yang terpilin..
Aah...
Desahku dengan putus asa...
Terlalu panjang kawan..
Terlalu panjang...
Dan aku pun tak yakin kau akan sanggup mendengar semuanya...
Aku takut kau malah bosan mendengar keluh kesahku..
Biarlah ku simpan dahulu..
Sampai ku temukan ramuan kata yang tepat untuk menyajikannya..
Aku bangkit menatap pinus tua itu lama..
Terima kasih atas sandaranmu kawan..
Aku berjalan tertatih menjauh tapi kemudian ku tolehkan wajahku seraya berkata:
Jika kau memang ingin mendengar kisah aku, dan mungkin aku tak sempat menceritakannya..
Jangan khawatir!
Kau tanyakan saja pada bumi..
Karena aku akan bercerita pada bumi sembari aku berbaring beristirahat bersamanya nanti..
Dia pasti akan bercerita..

Tentang kisah aku...

Jatinangor, 12 November 2009

Rabu, 06 Oktober 2010

Nanggroe Atjeh, hari ini, lima tahun yang lalu

kenangan itu masih membekas di angan.
sesegar darah yang memancar dari hati yang terluka.
tertulis dengan tinta hitam dari dasar lautan yang bergejolak.
terukir jelas dengan parutan luka yang menganga.

hari ini, lima tahun yang lalu.
kusadari bahwa manusia yang lemah ini merasakan kuasa Sang Agung di balik kekuatan alam.
menghambur,memecah riak kehidupan.
menceraikan hidup dari sang raga.
jiwapun terpaksa merelakan dirinya dalam dekapan sang maut.

hari ini, lima tahun yang lalu
teriakan putus asa membahana ke udara.
Asma Tuhan bergaung ke seluruh penjuru nanggroe.
tangisan anak yang selamat dan kehilangan ibunya memecah kesunyian.
orang tua yang mencari anaknya yang tersapu oleh ombak terus mencari.

hari ini, lima tahun yang lalu.
yakinlah kawan, ini bukan murka Tuhan.
tapi inilah bukti kasih sayang-Nya kepadamu
Dia membebaskanmu dari dunia yang hina ini.
Dia melepaskanmu dari derita tanpa akhir.

nanggroe, hari ini, lima tahun yang lalu.

inilah bukti kasih sayang Tuhan pada umat-Nya

Banda Atjeh, 26 Desember 2009

Seorang wanita yang mencari keluarganya di depan Masjid Raya Baiturrahman
hanya masjid yang masih tegak berdiri setelah kawasan tersebut diterjang tsunami

kapal nelayan yang terdampar di atas perumahan warga

jenazah korban tsunami yang terapung di Sungai Krueng Aceh























Note: Tulisan ini sebenarnya sudah lama, tapi sekarang baru saya poting berhubung karena blog ini baru saya buat.

Minggu, 03 Oktober 2010

Curahan Hati Seorang (yang mungkin) Posesif

Kuhela nafas panjang,
Terasa berat
Rasanya malu aku untuk ungkapkan ini
Baik kepadamu atau kepada orang lain

Tapi yang aku tahu pasti
Aku harus jujur padamu apapun itu
Walau terasa berat menindih

Baiklah, kini kumulai semuanya
Sejujurnya, aku tak rela
Jika pandanganmu tertuju kepada selain aku
Ketika aku berada di sisimu

Aku juga tak rela, sebenarnya
Jika senyummu yang amat sangat mempesona itu tertuju kepada lelaki lain
Yang menurutku tidak berhak menerima itu

Aku bahkan takkan pernah rela dan mengizinkan
Jika sela-sela jemarimu yang diciptakan Tuhan
Untuk kugenggam dengan tanganku disisipi oleh jari-jari lelaki
Yang bahkan tak pantas untuk memandangmu
Karena kau memang diciptakan hanya untuk aku

Maaf, jika aku terkesan memaksa
Maaf, jika aku mengeluarkan egoku yang tertinggi
Maaf, karena sesungguhnya rasa cintakulah yang membuatku begini

Maaf, karena aku lelaki

 Jatinangor, 10 Desember 2009